Kelas di Bawah Langit Gaza
Kondisi Palestina saat ini sangat memprihatinkan, terutama terkait dengan dampak dari serangan yang terus berlangsung. Sejak konflik yang pecah pada Oktober 2023 antara kelompok Hamas di Gaza dan Israel, terjadi eskalasi kekerasan yang menyebabkan banyak korban jiwa dan keruakan besar. Banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, terjebak ditengah-tengah pertempuran. Ribuan orang tewas, dan lebih banyak lagi yang terluka atau kehilangan tempat tinggal. Infrastruktur seperti rumah, rumah sakit, dan sekolah hancur akibat serangan udara dan artileri.
Sumber daya medis dan kebutuhan dasar seperti air, makanan, dan listrik yang lama, dan bantuan kemanusiaan sangat sulit untuk masuk karena blokade yang diberlakukan oleh Israel dan meskipun ada upaya internasional untuk mengirimkan bantuan, distribusinya sangat terbatas. Selain itu, di Tepi Barat dan Yerusalem, ketegangan juga meningkat dengan bentrok antara pasukan Israel dan warga Palestina. Konflik ini terus memperburuk kondisi kehidupan di Palestina yang sudah penuh dengan tantangan akibat penduduk yang berlangsung lama.
Baru-baru ini, serangan Israel mengakibatkan kematian sejumlah warga Palestina. Misalnya, serangan di sebuah sekolah di kamp pengungsi Shati, Kota Gaza, menewaskan 10 orang, dan total sekitar 30 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan yang menghancurkan sebuah rumah.
Kurangnya pendidikan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan dampak negatif jangka panjang bagi anak-anak, termasuk gangguan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Anak-anak yang lebih tua berisiko terjebak dalam pekerjaan atau pernikahan dini. Trauma akibat kekerasan dan pengungsian juga mempengaruhi kesehatan mental anak-anak, dengan banyak yang mengalami kecemasan dan depresi.
Pada tanggal 04 September 2024, anak-anak keluarga Qudeh seharusnya kembali ke sekolah. Namun, mereka justru sedang berjalan terhuyung-huyung dengan kedua tangan menenteng puing-puing dari bangunan hancur untuk dijual. Puing-puing itu nantinya digunakan untuk membangun kuburan di pemakaman yang kini menjadi rumah mereka di Gaza selatan.
"Di negara lain, orang seusia kami sedang belajar," kata Ezz el-Din Qudeh yang berusia 14 tahun, sambil mengangkut bongkahan beton bersama tiga saudaranya, yang termuda berusia 4 tahun. "Kami tidak bisa melakukan itu. Kami harus bekerja melebihi kapasitas kami hanya untuk bertahan hidup."
Ketika Gaza memulai tahun ajaran sekolah kedua tanpa kegiatan belajar-mengajar, sebagian besar anak-anak usia sekolah malah sibuk membantu keluarga mereka bertahan hidup di tengah serangan Israel yang menghancurkan.
Anak-anak berjalan tanpa alas kaki melalui jalan tanah untuk membawa air dalam jeriken plastik dari titik distribusi ke keluarga mereka yang tinggal di kota-kota tenda yang dipenuhi pengungsi Palestina. Sementara itu, yang lain mengantre di dapur umum untuk mendapatkan ransum.
Sebanyak 625.000 anak usia sekolah di Gaza kehilangan hampir satu tahun penuh pendidikan. Sekolah-sekolah ditutup menyusul serangan Israel sebagai balasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober. Belum jelas kapan anak-anak itu bisa kembali bersekolah karena perundingan-perundingan untuk menghentikan perang antara Israel dan Hamas belum membuahkan hasil.
Lebih dari 90 persen gedung sekolah di Gaza rusak akibat pengeboman Israel, termasuk sekolah dikelola oleh UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina, menurut Klaster Pendidikan Global, sebuah koalisi organisasi bantuan yang dipimpin oleh UNICEF dan organisasi nirlaba, Save the Children.
Sebanyak 85 persen bangunan sekolah mengalami kerusakan parah hingga memerlukan rekonstruksi bertahun-tahun. Universitas-universitas di Gaza juga hancur. Israel berpendapat bahwa militan Hamas beroperasi di sekolah-sekolah tersebut.
Sekitar 1,9 juta dari 2,3 juta penduduk Gaza diusir dari rumah mereka dan kini tinggal di kamp-kamp tenda yang tidak memiliki sistem air atau sanitasi. Banyak dari mereka juga bertumpuk di sekolah-sekolah PBB dan pemerintah yang kini berfungsi sebagai tempat penampungan.
Tetapi dengan kondisi mereka yang seperti itu, usaha guru dalam mengajar dan semangat dari anak-anak untuk pendidikan tetap mereka upayakan walaupun mereka belajar dibawah langit gaza. Mereka tetap menunjukkan semangat dan ketangguhan yang luar biasa.
UNICEF dan lembaga-lembaga bantuan lainnya mengoprasikan 175 pusat pembelajaran sementara, sebgian besar didirikan sejak akhir Mei, yang melayani sekitar 30.000 siswa dengan bantuan sekitar 1.200 guru sukarelawan, kata Ingram. Mereka menaarkan kelas literasi dan numerasi serta kegiatan untuk kesehatan mental dan pengembangan emosional.
Namun, dia mengatakan mereka kesulitan memperoleh perlengkapan seperti pena, kertas, dan buku karena barang-barang tersebut tidak dianggap sebagai material prioritas penyelamatan nyawa, sementara kelompok bantuan berjuang untuk mengirimkan cukup makanan dan obat-obatan ke Gaza.
Pada Agustus, UNRWA meluncurkan program "kembali belajar" di 45 sekolah yang beralihfungsi menjadi tempat penumpangan. Program ini menyediakan kegiatan seperti permainan, drama, seni, musik, dan olahraga untuk anak-anak, bertujuan memberi mereka waktu istirahat, kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman - teman, dan merasakan kembali masa kanak-kanak mereka, kata juru bicara Juliette Touma.
tidak berhenti disitu saja, karena ditengah gelombang polio yang jadi ancman baru bagi anak - anak Gaza, ada para orang tua patah hati yang merasa tidak berdaya, tidak bisa melindungi anak - anak mereka. seperti banyak orang di Gaza, Eid al-Attar, seorang guru dari wilayah utara, kini menghabiskan hari-harinya dengan berusaha mencari cukup makanan dan air untuk menghidupi keluarganya.
Mengungsi delapan kali sejak serangan militer Israel pada 7 oktober 2023, melansir Guardin, rabu 4 September 2024, pria berusia 42 tahun ini telah berusaha sekuat tenaga melindungi kelima anaknya. kini, wilayah Palestina tersebut menghadapi bahaya baru, penyakit yang sangat menular dan berpotensi mematikan, Polio.


Komentar
Posting Komentar